Terang itu Kelabu
Terang itu jernih diatas sana, biru
awan berkilau, tak lagi kelabu seperti kemarin sore. Ramayana, gadis kota
berhati desa itu terlihat melangkah menuju beranda rumah, tepat dilantai dua
rumahnya. Sepanjang langkah, ia mendengar lantunan lucu dari samping
kediamannya, terdengar anak-anak berkaki mungil melantunkan nyanyian Gundul-Gundul Pacul. Langkah Ramayana
terus berlalu, menuju beranda rumah. Dibalut celana panjang bermotif batik,
serta kaos putih polos berlengan pendek menambah anggun dirinya.
Sesampainya disana, ia segera
bersimpuh pada kursi kayu. Meja bundar yang berada disisinya masih terisi sisa
tugas semalam. Tumpukan kertas serta pena melekat pada badan meja, tersusun
rapih. Melamun Ramayana disana, menanti rekannya yang berjanji untuk tiba.
Sudah lama gadis itu tidak berjumpa dengan rekannya, sebab, rekannya tersebut
sudah lama berada dinegeri orang, mengejar pendidikan, dan menetap disana.
Tak senang melamun terlalu dalam,
Ramayana pun terlihat mengambil buku putih yang berada disisinya, pun pensil
yang terbaring diatas meja itu. Penantiannya dialihkan kepada sebuah gambar, ia
terlihat membuat sketsa wayang pada kertasnya itu, begitu lihai jemari lentik
miliknya menari menuntun pensil diatas kertas. Sedang asyiknya melukis, ponsel
yang sebelumnya ia taruh diatas meja pun berbunyi, segera saja dirinya
mengambil ponsel itu, melekatkannya pada telinga, dan menjawab panggilan dari
sisi yang berbeda.
“Iya hallo Kar…” ucap Yana pada
seseorang yang tidak lain ialah Sekar, sahabatnya yang berjanji akan berkunjung
“yaudah, aku tunggu kar, hati-hati
dijalan” lanjutnya, entah apa yang sedang mereka bicarakan, sepertinya Sekar
memberi tahu dirinya bahwa sedang berada dijalan menuju ke kediamannya.
Ramayana tinggal seorang diri, hanya
sesekali sepupunya berkunjung kekediamannya, bercengkrama dengan Ramayana,
namun saat ini, tak tampang sepupu itu hadir disana. Ramayana pun bergegas dari
persimpuhannya, menuju dalam ruang. Tak lama, ia pun kembali tiba, membawa
nampan yang berisi dua cangkir serta teh hangat yang berada didalam teko
tanahnya. Diletakannya minuman itu diatas meja disisinya bersimpuh.
Tak lama berselang, terdengar langkah
seseorang dari dalam ruang. Ramayana yang sedang asing berkumandang ringan pun
dikejutkan dengan kedatangan Sekar. Sekar menepuk bahu Yana, Yana menoleh
kearahnya, mereka beradu senyum sebelum Yana menyuruh rekannya itu untuk
bersimpuh.
“Apakah jarak se menakutkan itu Kar?”
ucap Yana dari sandarannya, menatap Sekar yang berlalu menuju kursi yang berada
disisi Yana
“Maksud mu?” sahutnya mengerlingkan
dahi kepada Yana setelah bersimpuh
“Tiap kilometer yang kita lalui
memang menuntut kita untuk berubah, namun bukan berarti kita harus takluk pada
tuntutan itu, kita harus bertahan pada dasar diri, jangan mau dibaluti” ucap
Yana setelah menarik nafas panjang, mengamati perubahan yang melekat pada gaya
Sekar, rambut sahabatnya kini, sudah tak lagi menghitam, berubah penuh warna.
Bicaranya tak menatap Sekar, Yana terus melukis pada lembaran kertasnya yang
sempat ia taruh tadi
“Iya Yana, aku hanya mengikuti pemuda
sana, agar sama. Bagaimana? Bagus tidak rambutku?” sahutnya tersenyum,
sembaring mengibaskan rambutnya, pamer kepada Yana
“Agar sama? Klise.” Tukas Yana
tersenyum simpul
“Mengapa kita hidup pada generasi
yang takut berbeda ya Kar? Lucu ya rambut mu, seperti burung cendrawasih
hehehe” lanjutnya mencemooh Sekar sembaring tersenyum simpul mengamati
ukirannya
“Entah lah Yan, mungkin karena mereka
merasa nyaman akan persamaan. Bisanya kamu mengolok ku Yana hahaha” sahut Sekar
diakhiri tawanya
“Hahaha, minum dulu sana Kar, aku
tahu, tenggorokan mu sudah mengering selama perjalanan kemari” ucap Yana
sembaring melirik minuman yang berada diatas meja
“Samanya kamu seperti dulu, seperti
ibu ku, tak heran anak-anak menganggap mu ibu” tukas Sekar mengamati minuman
itu
“Sebab?” sahut Yana melirik Sekar
“Selalu penuh perhatian” sahut Sekar
“Apa ini Yan?” lanjutnya mengamati
minuman itu
“Teh hangat. Agar nyamannya sore
semakin memanja” sahut Yana tersenyum melirik Sekar
Sekar pun terlihat menuangkan minuman
itu kedalam cangkirnya, menambahkan sedikit gula batu agar pahit mereda.
Setelahnya mereka kembali terlihat berbincang seru diberanda itu. Mengulas
balik kisah yang pernah mereka lalui sebelum keduanya terhalang oleh jarak. Banyak
tanya Sekar kepada Yana, berbeda dengan dirinya yang lebih teduh dalam
bersikap. Yana pun menanggapi seluruh pertanyaan yang diberikan oleh Sekar.
“Masih sama ya Indonesia saat ini
dengan Indonesia masa kecil kita Yan, nyaman, tenang” ucap Sekar ditengah
lamunannya. Yana menoleh kearah Sekar, mengerutkan dahinya
“Aku lupa pribahasa yang sering kamu
lontarkan dulu, apa yan? Masih ingat?” lanjutnya menatatap sayu Yana, mereka
saling menatap
“Gemah Ripah Loh Jinawi…” ucap Yana
lirih, sembaring menundukan kembali tatapannya kearah kertas itu
“Ya, Gemah Ripah Loh Jinawi. Masih
melekat ya” sahutnya menatapi langit luas
“Tidak, sudah lama mati Kar” Tukas
Yana pada gambarnya. Sekar menoleh, mengerutkan dahinya
“Maksud mu? Mati?” tanyanya
“Ku kira, kalimat itu akan menjadi
pondasi yang abadi. Namun nyatanya, tak ubahnya seperti sepotong lilin yang
tergerus akan panasnya globalisasi” sahutnya menatap gambar yang dipangkunya
“Mungkin itu pandangan mu saja Yan.
Aku yang merasakan ini, aku yang lama meninggalkan tanah lahir ku, dan saat
kembali, aku tidak merasakan akan perbedaan itu. Memang, jika berbicara
mengenai pembangunan, mereka mengalami perubahan yang sangat pesat, namun bila
berbicara kehidupan, ku rasa tidak” ucap Sekar mengokohkan argumentasinya,
menatap Yana serius. Yana hanya tersenyum menunduk mendengar ucapan sekar
“Beda Sekar…” ucap Yana menatap sayu
sahabatnya itu
“Aneh, menurutku tanah ini tak pernah
berubah masyarakatnya. Apa yang berbeda coba?” sahut Sekar penasaran
“Silahkan saja kau putari kota ini
esok hari, apa masih ada yang berbudaya? Apa masih ada makanan yang kau makan
semasa kecil? Apakah mereka masih ramah menyapa mu? Rasakan Sekar, apa masih
ada sosok tenteram yang dahulu bersemayam dinegeri? Apakah tanah kita masih
subur seperti lirik lagu itu? Coba cari batu dan kayu yang dijadikan tanaman,
apakah masih tersisa?” ucap Yana sembaring menuangkan teh hangat kedalam
cangkir, pun gula batu, lalu mengaduknya
“Baik, esok hari kan ku coba
buktikan, bahwa yang kamu anggap mati ternyata masih ada” sahut Yana tersenyum,
ia merasa tertantang untuk membuktikan itu
“Ku tunggu Sekar…” sahut Yana lirih
*
Pagi ini embun sejuk terasa
bersemayam pada dinginnya lantai. Sekar terlihat membuka matanya perlahan,
menyambut cahaya ramah yang mengintip dari balik kaca kamar, menyadarkannya
dari bayang fana semalaman. Ia pun bergegas beranjak dari tempat
peristirahatannya, menyusuri dinginnya lantai menuju tempat pembilasan.
Sesudahnya, ia baluti tubuh itu
dengan penampilannya seperti biasa, mengikuti zaman. Tak lupa tas ranselnya
dikaitkan pada kedua bahu miliknya. Kini ia terlihat melangkah keluar ruangan.
tak ada kegiatan yang penting sebetulnya, hanya saja, ia ingin membuktikan
ucapan yang diberikan Yana kemarin sore. Ia ingin menunjukan bahwa segala
argumennya benar.
“kan ku buktikan pada Yana, bahwa
tanah ini masih seperti dulu, tanah subur yang ku kenal, makmur.” Ucapnya dalam
hati
Ia pun terus melangkah hingga
akhirnya menaiki sebuah angkutan umum. Terlihat ramai didalam sana. Dipilihnya
kursi tengah untuk dirinya bersimpuh. Dipertengahan jalan, ia melihat ramainya
anak muda mengiringi ondel-ondel melangkah. Sekar tersenyum, terbukti, anak
muda kini masih mencintai budayanya. Setelah itu, ia terus mengamati jalan
serta gedung-gedung tinggi menjulang.
Hingga tiba dirinya didalam sebuah
kampus, ia ingin mencari bukti bahwa mahasiswa ataupun mahasiswi masih
melestarikan budaya. Sepanjang jalan menuju kampus, ia pun banyak disenyumi
oleh beberapa orang, terlebih pria yang melangkah dihadapannya. Lagi-lagi Sekar
tersenyum, merasa budaya ramah masih melekat pada masyarakat.
Sesampainya didalam kampus, ia
melihat sekelompok mahasiswi sedang berlatih menari saman, mereka duduk
berbaris mengikuti arahan sang pelatih. Ketiga kalinya Sekar tersenyum, semakin
banyak saja bukti yang akan diberikan kepada Yana, tak lupa ia terus memotret
segala apa yang dijadikan bukti itu.
Ia pun melihat beberapa mahasiswa
berlalu dihadapannya, dan menegur ramah dosen yang juga berada dihadapannya,
begitu sopan mereka menurut Sekar, lagi-lagi hal itu dipotretnya secara
diam-diam. Untuk bahan bukti kepada Yana, fikirnya. Sudah puas mengelilingi
kampus, kini Sekar melangkah keluar kampus, menelusuri perumahan yang berada
tak jauh dari jaraknya, ia masih ingin mengumpulkan bukti.
Disepanjang perumahan, Sekar tak
banyak menemui aktivitas, hanya beberapa anak-anak yang bermain ditaman bersama
orang tuanya, hal itu pun diabadikan oleh Sekar, begitu tentram situasi saat
itu. Ia pun lalu melanjutkan langkahnya, dan melihat anak-anak muda bermain
ponsel secara bersamaan, lagi-lagi diabadikannya gambar itu.
“Tidak seperti dahulu kala ku kecil,
kini Indonesia sudah makmur, tak ada lagi penderitaan, segalanya sudah merata”
bisiknya
Ia pun terus mencari bahan untuk
menyudutkan argumentasi yang diberikan oleh Yana. Sudah banyak bukti yang
disimpan oleh Sekar, bahwa Indonesia masih tentram, ramah, makmur dan sentosa,
gemah ripah loh jinawi, seperti sedia kala. Kini langkahnya mengarah kembali
pada kediaman Yana. Tak lupa ia menghubungi Yana, memberi tahu bahwa dirinya
akan kembali kesana.
*
Didalam rumah Ramayana, ia terlihat
sedang bersimpuh pada posisi kemarin sore. Menggunakan celana batik panjang,
serta kaos yang menutupi seluruh lengan, memangku bantal. Ia pun terlihat
sedang merakit karet yang diselipkan pada jempol kakinya. Tak beda seperti
kemarin, ia masih ditemani dengan keheningan. Kini dirinya kembali ditugaskan
menanti rekannya yang akan dating. Hingga terdengar suara orang didepan
rumahnya, ia melirik kesana, tak lama terlihat bayangan paras Sekar.
Terlihat Sekar melangkah menuju letak
Yana bersimpuh, dihampirinya Yana seketika dirinya tiba, menegur sejenak lalu
bersandar pada kursi yang tersedia. Terdengar tarikan nafas panjang yang
dilontarkan oleh Sekar, dirinya merasa letih selama perjalanan. Yana yang
mendengar, meliriknya santun, tersenyum ia pada sahabatnya itu.
“Lelah Kar?” ujar Yana memecah
keheningan kepada rekannya itu
“Sedikit Yan, sudah lama tak
merasakan suhu Indonesia, belum sempat beradaptasi” sahut Sekar sembari
melepaskan tasnya. Yana mengerutkan dahinya, lalu tersenyum mendengar ucapan
sahabatnya itu, sembaring melanjutkan aktivitasnya
“Mau minum apa?” tanyanya menatap
rekannya itu
“Teh manis boleh Yan” sahutnya lembut
“Ya sudah, aku buatkan dulu ya” sahut
Yana bergegas dari sandarnya
“Tambahkan es ya Yan kalau ada” ujar
Sekar manja, Yana tersenyum
“Sini, biar ku lanjutkan pekerjaan
mu” lanjut Sekar ketika Yana sedang berdiri disisinya. Yana pun mengamati Sekar
lama
“Memangnya kau masih ingat?” tanya
Yana
“Dulu memangnya siapa yang selalu
membuatkan ini ketika kita ingin bermain?” sahutnya tersenyum kepada Yana. Yana
pun tersenyum kerekannya itu, sembaring memberikan karet yang sedang
disusunnya. Setelahnya ia pergi kedalam
Sekar dengan lembut melanjutkan
susunan karet yang dilakukan oleh Yana, teringat masa kecilnya dulu ketika
dirinya ingin bermain bersama rekan-rekan sebayanya. Namun saat ini, permainan
karet itu sudah tak lagi dijumpa, tergerus oleh permainan modern yang memasuki
pergaulan remaja.
Tak berselang lama, Yana pun kembali
pada posisinya semula, membawa segelas minuman untuk Sekar, ditaruhnya minuman
itu diatas meja, tepat disisi lengannya sekar bertumpu. Kini Yana pun meminta
kembali pekerjaan yang sedang dikerjakan oleh Sekar, namun Sekar menolaknya,
sebab, menurutnya sedikit lagi susunan karet itu akan selesai.
“Sini Kar, biar aku saja” ucap Yana
“Sudah, dikit lagi selesai Yan”
sahutnya
Yana pun terlihat mengamati Sekar
menyusun karet itu, ia ingin tahu apakah sahabatnya itu masih ingat cara
menyusunnya seperti sedia kala, atau sudah lupa karena lama tak menyentuhnya.
Lalu Sekar pun menyelesaikan pekerjaan itu, memberikannya kepada Yana, Yana
tersenyum, lalu menyimpannya diatas meja sisinya.
“Memangnya untuk siapa sih permainan
itu?” tanya Sekar sedikit memajukan tubuhnya kearah Yana
“Anak sebelah rumah, sudah biasa ku
buatkan mereka mainan” sahut Yana lirih melirik sebelah rumahnya, tepat
dibelakang tubuh Sekar. Sekar pun ikut melirik kesana beberapa detik
“Memangnya, mereka masih mau
memainkan ini?” tanya Sekar kepada Yana
“Mau…” sahut Yana lembut
“Ah masa sih? Bukannya saat ini
seumuran mereka cenderung memainkan gadget ya?” sambung Sekar tak percaya
“Itu dia tugas kita Kar, mengenalkan
permainan tradisional kepada mereka. Agar keseruan yang pernah kita rasa,
mereka rasakan juga. Terlebih, supaya permainan seperti ini tetap membudaya.
Kalau tidak ada yang melestarikannya, nanti diakui Negara sebelah loh” ucapnya
tersenyum kearah Sekar
“Ah kamu ini, memangnya Reog” sahut
Sekar tertawa. Yana pun membalas tawa Sekar
“Ehiya Yan, aku sudah membuktikannya”
ujar Sekar kepada Yana. Yana yang terlihat sedang tertawa pun langsung terdiam,
berfikir tentang ucapan yang diberikan sekar
“Membuktikan apa Kar?” tanya Yana
sembaring mengingat-ingat
“Iya, kemarin kan kau berkata bahwa
Indonesia tidak lagi seperti dulu. Gemah ripah loh jinawi tidak lagi terasa
disini, bukan begitu?” sahutnya mengingatkan Yana, Yana mengerutkan dahinya
“Lalu?” sahut Yana
“Iya, aku sudah membuktikannya, bahwa
masyarakat yang ku kenal dahulu, masih serupa” sahut Sekar sembaring mengambil
tas ranselnya yang ia taruh dibawah, dekat kakinya
“Ini aku ada foto-foto yang
menunjukan bahwa masyarakat saat ini masih seperti semula” Lanjutnya mengeluarkan
beberapa lembar foto yang telah dicetak sebelum Sekar mengunjungi Yana
“Coba aku lihat” sahut Yana mengambil
tumpukan foto yang berada ditangan Sekar
Yana pun membuka lembar demi lembar
serta mengamatinya dalam foto itu. Terlihat paras Yana tersenyum tiap kali
mengamati gambar yang diberikan oleh Sekar bingung, ia pun terlihat
menjulingkan kedua matanya serta mengerutkan dahi. Sudah hampir selesai Yana
mengamati seluruh gambar itu. Setelah selesai, ditaruhnya gambar itu diatas
meja.
Yana pun bergegas dari kursinya,
melangkah menuju letak tumbuhan berkumpul. Dicabutnya setangkai bunga yang
berada disana, lalu ditanamkannya lagi pada tanah yang berbeda. Sembaring
melakukan itu, ia terdengar mengomentari gambar-gambar yang diberikan oleh
Sekar.
“Apa tanggapan mu tentang ondel-ondel
itu?” tanya Yana sembaring memetik salah satu bunga beserta tangkainya
“Ya menurutku, masih ada pemuda yang
melestarikan budayanya. Tidak seperti pandangan mu selama ini” sahut Sekar
mengamati Yana dari balik tubuhnya
“Bila ondel-ondel itu digantikan
seperti patung pancoran, apakah kau yakin mereka masih mengaraknya?” tanya Yana
membelakangi Sekar, sembaring menancapkan daun yang dipetiknya ketanah yang
lainnya
“Tidak… sebab, berat Yana” sahut
Sekar
“Masih, sebab itu pekerjaan mereka.
Seberat apapun budaya itu, ia akan tetap diaraknya. Karena mereka butuh makan,
bukan butuh budayanya dilestarikan. Jika mereka mengenal fungsi dari apa yang
mereka arak, mungkin mereka tidak mengaraknya. Lagi pula, sudah banyak seniman
mereka yang mengecam aksi itu. Paham?” ujar Yana sembaring melangkah kembali
menuju letak kursinya. Sekar terlihat termenung, berfikir tentang ucapan yang
diberikan Yana
“Orientasinya kini sudah berbeda,
Sekar” sambungnya ketika menempati kursi itu, mengamati Sekar
“Lalu, apa pandangan mu terkait
pemuda yang menari itu?” lanjut Yana bertanya pada Sekar
“Ya sama, masih ada yang melestarikan
budaya kita” sahut Yana tak banyak referensi
“Tarian itu kembali menguat pada
tahun 2012 lalu, banyak anak muda yang menarikannya hanya karena dasar trend,
Bahasa kesehariannya “ikut-ikutan” agar terlihat kekinian” ucap Yana lembut
kearah Sekar
“Sebentar…” sambungnya. Ia terlihat
berdiri lalu melangkah menuju halaman utama rumahnya, terlihat Yana mencari
sesuatu disana
“Bang… mau rokok gak bang?” teriak
Yana kepada pemuda yang sedikit mengalami gangguan kejiwaan
“Mau dong neng…” sahut pemuda itu
“Tapi joget dulu ya??” ujar Yana dari
posisinya. Sekar mengamatinya dari posisi ia bersimpuh. Pemuda itu pun terlihat
duduk, lalu menarikan sebuah tarian adat bali, tari kecak. Yana yang melihatnya
pun tersenyum, tak lama disudahinya tarian itu oleh Yana. Lalu ia melangkah
ketempatnya bersimpuh semula, untuk mengambil sebungkus rokok miliknya dan
diberikannya kepada pemuda itu
“Nih bang… itu tarian dari mana?”
tanya Yana sembaring memberikan sebungkus rokok
“Banten neng hahaha” tukas pemuda itu
sembaring berlalu setelah mengambil rokoknya. Yana tersenyum lebar, hingga
giginya terlihat. Lalu kembali menuju posisinya semula, disisi Sekar
“Lihat? Apakah ia bisa menari?” tanya
Yana kepada Sekar
“Bisa…” sahutnya mengamati kedua
netra Yana dalam
“Mengerti budaya?” lanjutnya bertanya
pada Sekar
“Tidak…” sahutnya singkat, malu
“Seperti itulah anak muda saat ini.
Mereka hanya mengikuti gaya, namun tidak memahami dari apa yang mereka ikuti.
Seharusnya para pengajar tidak semata-mata mengajarkan gerakan, tapi juga
mengenalkan serta memberikan nilai dari budaya yang mereka tanami, pesan apa
yang tertanam disana” ujar Yana menatap kedua mata Sekar
“Lalu foto itu apa maksudnya?” tanya
Yana mengamati foto mahasiswa menegur sang dosen
“Ini bukti pemuda kita masih santun
terhadap orang yang lebih tua” jawab Sekar mengamati gambarnya
Tak lama terdengar suara langkah kaki
dari ruang yang berbeda. Sepertinya, Ratna, sepupu dari Ramayana berkunjung.
Betul saja, tak lama terlihat paras Ratna dari celah pintu. Ia menghampiri Yana
yang sedang bersimpuh, pun menghampiri Sekar yang tak jauh dari jarak Yana
bersimpuh.
“Assalamualaikum mba…” ucap Ratna.
Yana menoleh. Ratna pun menghampiri Yana, lalu salim kepada Yana
“Eh, dik Ratna… Karo sinten dik?”
sahutnya sembaring memberikan tangannya kepada Ratna
“Kulo dewe mba. Anu, ono pesen seko
bule, mba Yana ke gelem gudeg boten? Ning omah, bule sri gawe gudeg mba” sahut
Ratna berdiri disisi Yana
“Walah, suwon loh dik. Yo wis tak
cicipi hehe, sekaleh nggih dik hehehe” sahut Yana manatapi Ratna
“Yo mba, mengko tak anterke rene gih”
sahut Ratna
“Eh, jenengan kok kepangan barang to
dik?” ucap Yana menggenggam rambut Ratna yang terkepang
“Iyo mba, mau dikepangke karo bule”
sahut Ratna santun
“Ayu temen to jenengan” ujar Yana
tersenyum
“Yo wis yo mba, tak mulih sik, mengko
rene meneh” ucap Ratna kepada Yana
“Oh yoo, monggo” jawab Yana
“Assalamualaikum” ucapnya sembaring
tersenyum kearah Yana serta Sekar, sebelum meninggalkan mereka berdua.
Yana pun melanjutkan perbincangan
yang sempat terhenti kala Ratna tiba, ia bertanya kepada Sekar mengenai
perbincangan yang sempat tertunda tadi. Sekar pun menjelaskannya. Yana
teringat, lalu kembali bertanya kepada Sekar mengenai gambar yang ia berikan
kepadanya tadi.
“Salim?” tanya Yana lirih
“Tidak…” sahutnya singkat. Yana
tersenyum simpul kearahnya
“Yana, tapi serius loh, sepanjang
jalan tadi, banyak yang memberikan senyum pada ku, mereka ramah” ujar Sekar tak
mau kalah
“Sekar… Ramah dengan menggoda itu
berbeda tipis loh, mungkin karena paras mu cantik, jadi banyak pria yang
mencari perhatian diluar sana. Tapi apakah kamu melihat perlakuan mereka kepada
orang dibelakang mu? Tidak kan…” ujar Yana kepada Sekar sembaring tersenyum
“Ah kamu bisa saja Yana…” ujarnya
merona, malu
“Itu apa yang jatuh Sekar? Dibawah
kaki mu” tanya Yana kepada Sekar saat sekelabat pandangan menjumpai benda yang
terjatuh
“Oh, ini masker ku. Yang ku gunakan
tadi pagi saat menaiki angkutan umum” sahut Sekar
“Mengapa? Udara kota ini terlalu
sejuk ya? Terlalu dingin, sehingga pernafasan terasa beku bila tak memakainya?
Iya?” tanya Yana meledek Sekar. Belum sempat dijawab, suara pria terdengar
menegur mereka. Ya, Yudha tiba pada mereka, teman Yana dalam kampusnya
“Assalamualaikum Yana…” ujar Yudha
berbalut jaket kulit serta membawa helmnya
“Eh, jenengan, rene mlebu” sahut Yana
dari posisinya. Yudha pun melangkah menghampiri Yana serta Sekar
“sorry kesuen, mau ono kecelakaan
Yan, ning persimpangan cedak omah ku” ujar Yudha menjelaskan keterlambatannya
“Rapopo lah yud. Sampean tolongke
ora?” tanya Yana
“Boten. Arep tak tulungke, wis akih
kamera, do selfie. Ora ono roso mesake ngono loh, wong keno musibah kok direkam
barang” ujar Yudha sembaring bersimpuh diantara mereka. Yana terkekeh mendengar
penjelasan Yudha
“Yo ngono yud. Saiki ke wis ra koyo
mbiyen, wis lali karo roso kemanusiaan” sahut Yana
“oh iya, lali aku, kenalke yud, iki
konco cilik ku” lanjutnya mengenalkan Yudha kepada Sekar. Yudha pun menjulurkan
tangannya, disambut oleh Sekar. Mereka berkenalan
“gek ngopo to sampean? Aku ganggu
ora?” ucap Yudha ditengah mereka
“Ora yud. Iki loh, Sekar ke isih
kekeh nik Gemah Ripah Loh Jinawi isih ono ning Indonesia” ucap Yana kepada
Yudha, Yudha sesekali mengamati Sekar dari posisinya sembaring mendengarkan
ucapan Yana
“Oalah, sudah mati mba, sudah tak
berbekas” ujar Yudha kepada Sekar. Sekar mengamati Yudha
“Maksudnya mati itu gimana sih mas?
Tapi saya rasa kok masih ada ya?” sahut Sekar kepada Yudha
“Jelaske yud, ngeyel cah iki ke” ujar
Yana berbisik kearah Yudha sebelum memasuki ruangan, mengambil makanan
“Gini mba. Arti dari Gemah ripah loh
jinawi itu adalah tentram dan makmur serta sangat subur tanahnya. Dulu memang
selalu jadi semboyan negeri ini, tapi lama kelamaan hal itu pergi dan menjauh
untuk dijadiken semboyan negeri ini. Menurut saya, kata-kata atau arti itu
sudah luntur mba. Untuk kata makmur, pasti akan membuat kita mengerutkan dahi
dan berfikir. Makmur dalam bidang apa? Makmur dalam artian anak-anak sekarang
sudah punya hp? Terus tentram, tentram dalam bidang apany? Dalam segi perang
memang iya, tapi coba lihat aksi unjuk rasa alias demo, hampir tiap minggu
terjadi diseluruh wilayah Indonesa mba. Nah apa itu tentram? Mungkin kalau
digedung DPR atau istana pastinya tentram, wong temboke tebel-tebel mba, arep
teriak sampe suara abis pun, mereka tetap tentram. Tapi coba kalau kita lihat
warga yang berada disekitaran demo, apa mereka merasa tentram? Yang ada cemas
mba. Lantas kalau tentram saja sudah bergeser, bagaimana dengan kata makmur?”
ucap Yudha terhenti kala Yana kembali tiba, membawa semangkuk kacang serta
secangkir kopi untuk Yudha
Yana pun menaruh bawannya pada meja
yang berada disekitar mereka itu, menawarkan Yudha untuk sejenak menyeruput
kopi buatannya. Yudha pun menenggaknya sejenak. Lalu mereka kembali terlibat
dalam pembicaraan yang sedang mereka bicarakan disana, terlihat pula Yana
serius mengamati segela apa yang diucapkan oleh Yudha
“Sederhananya gini mba, bagaimana
kita bisa hidup makmur, bila ketentraman sudah jauh berubah? Sedikit tidak
setuju dengan aturan, demo! Tidak puas dengan hasil pilkada, demo! Protes ini
dan itu, unjuk rasa! Bukankah itu gambaran tentram di wilayah sudah tidak lagi ada.”
Sambung yudha yang sempat terhenti tadi. Seluruh pandangan tertuju padanya
“Lalu siapa yang harus bertanggung
jawab dengan ketentraman itu?” sahut Sekar dari sandarannya, kedua matanya
fokus pada Yudha. Sesekali ia menyelipkan rambut yang menghalangi pandagannya
pada sela telinga miliknya
“Ya sebenarnya kita semua yang
bertanggung jawab, kita yang merasa sebagai pembuat kebijakan dan keputusan,
serta kita juga sebagai pemilih mereka dengan kekeliruan akibat amplop, sembako
serta mau saja dibodohi dengan janji manis. Akhirnya kita juga yang hidup tidak
tentram, tidak makmur alias melarat. Kecuali kita rawe-rawe rantas,
malang-malang punting yaitu bekerjalah dengan keras dan hancurkanlah setiap
penghalang.” Ujar Yana menyahuti pertanyaan Sekar, jawabannya itu diakhiri oleh
senyum manisnya kearah Sekar serta Yudha
“Gemah Ripah Loh Jinawi memang masih
ada di Indonesia, tapi bukan milik rakyat Indonesia secara keseluruhan. Gemah
ripah loh jinawi hanya milik golongan terbatas dan tertutup rapat. Jadi jangan
harap untuk berada dilingkaran gemah ripah loh jinawi bila kita hanya rakyat
golongan biasa. Mereka yang gemah ripah loh jinawi tidak terpengaruh dengan
kenaikannya BBM, atau mungkin bila sebiji kacang ini dihargai 10 ribu pun,
tidak masalah menurutnya. Mereka punya kuasa serta uang, tinggal serok, semua
beres” sambung Yudha sembaring menyerok sebagian kacang yang berada dimangkuk
itu
Terlihat Yana pun bangkit dari
sandarannya, melangkah menuju tanaman yang sempat ia tanam tadi. Mengamatinya
dan kembali memegangnya. Yudha serta Sekar pun mengamati kegiatan yang sedang
dilakukan oleh Yana. Sekar bertanya tentang apa yang sedang dilakukan oleh Yana
didepan sana
“Sedang apa Yana?” ujar Sekar dari
balik tubuhnya
“Melihat tanaman yang tadi ku tanam”
sahut Yana mengarah kepada tanaman itu
“Hidup?” tanya Sekar
“Mati, sudah tak lagi subur” sahut
Yana membelakangi Sekar. Tak lama, Yana pun mulai kembali keposisi awal dengan
membawa setangkai bunga yang layu
“Jangankan untuk makmur, untuk
tentram saja sulit mba. Jadi ya kita lupakan saja untuk bisa menjadi makmur.
Kita boleh makmur sebatas cukup makan, bayar kredit, bayar biaya kuliah sambil
lari tunggang langgang bayar ini itu. Kita harus melupakan subsidi demi
kemakmuran negri ini, tapi mereka yang merampok lewat jalan korupsi dan
kolusi.” Ujar Yudha menyambungkan ucapannya kala ada jeda dari pembicaraan Yana
serta Sekar
“Memang kita masih hidup di
Indonesia, tapi jangan harap Gemah Ripah Loh Jinawi masih bersemayam pada bumi
pertiwi, kecuali kita mau rawe-rawe rantas, malang-malang punting plus tidak
tahu malu. Kita semua sadar bahwa kita hidup dinegara tentram karena tidak ada
perang atau dentuman bom, kita hidup ditengah kemakmuran gedung pencakar
langit, serta suburnya tanah, ya walaupun apa-apa masih import dari negera lain
yang belum tentu tanahnya lebih subur dibanding kita” lanjut Yudha kepada
Sekar, Yana mengamatinya dalam
“Lalu bagaimana caranya agar kita
dapat menanamkan kembali nilai itu ya Yud, Yan?” tanya Sekar lirih, kini
pandangannya kembali terbuka
“hmmm, kita tentramkan lebih dahulu
hati kita, agar kehidupan disekitar kita pun ikut tentram” sahut Yudha
tersenyum sembaring menyeruput kopinya
“Ikuti pesan lagu Gundul-Gundul
Pacul, dan terlebih sebarkanlah virus senyum pada semua orang, agar kebahagiaan
serta keteduhan dapat dirasakan oleh seluruh golongan” Ucap Yana menimpali
perkataan Yudha, sembaring mengambil kertas yang kemarin digunakannya
menggambar, ia lanjutkan gambar itu.
“Memangnya, arti dari lagu
Gundul-Gundul Pacul itu apa Yan?” tanya Sekar menatapi Yana. Yana tertunduk,
terfokus pada aktifitasnya
*
Kini Sekar melangkah mengitari
separuh kota, mengikuti pesan kedua rekannya itu untuk menyebarkan virus
senyum, membangun keramah-tamahan kembali pada negeri tercinta. Terlihat ia
menyapa ramah seluruh orang yang ditemuinya, seperti didesa dulu kala. Begitu
pun orang-orang yang disapa, mereka tersenyum dan ikut meluaskan senyuman itu
kepada sesame. Hingga pada akhirnya, gambaran yang selama ini dibuat oleh Yana
pun usai, ia taruhnya kertas itu diatas meja, beserta pensil yang ia gunakan.
Terlihat sebuah ukiran Gemah Ripah Loh Jinawi dan Gundul-Gundul Pacul pada
kertas itu.
*
Hormati pahlawan, juga leluhur, beserta pesannya. Niscaya Negeri ini akan
makmur, tentram serta sejahtera.
Komentar
Posting Komentar